Ilustrasi Kerajaan Blambangan, kerajaan Hindu terakhir di ujung timur Pulau Jawa

Kerajaan Blambangan: Kejayaan dan Keruntuhan di Ujung Timur Jawa

Di ujung timur Pulau Jawa, pernah berdiri sebuah kerajaan yang bertahan sebagai benteng terakhir peradaban Hindu, jauh setelah kerajaan-kerajaan besar lain di Jawa runtuh atau berpindah keyakinan. Kerajaan itu adalah Blambangan — kerajaan yang lahir dari sisa-sisa kejayaan Majapahit, sempat mencapai masa keemasannya sendiri, namun akhirnya harus tunduk setelah tiga abad mempertahankan diri dari tekanan bertubi-tubi.

Artikel ini menelusuri perjalanan panjang Kerajaan Blambangan, dari asal-usulnya, masa kejayaan di bawah kepemimpinan raja-rajanya, hingga proses keruntuhannya yang mengubah wajah ujung timur Jawa selamanya.

Lahir dari Reruntuhan Majapahit

Setelah Kerajaan Majapahit runtuh menjelang akhir abad ke-15, wilayah Blambangan menjadi tempat pelarian bagi keturunan keluarga kerajaan yang tersingkir dari perebutan takhta. Salah satu tokoh penting dalam babak awal ini adalah Lembu Miruda, keturunan Kertabhumi yang melarikan diri ke Blambangan sekitar tahun 1478.

Menurut Babad Sembar, Lembu Miruda kemudian mendirikan pertapaan Watuputih di hutan Blambangan dan berdoa agar putranya kelak menjadi raja di ujung timur Pulau Jawa. Doa itu terkabul — menjelang awal abad ke-16, cucu Lembu Miruda yang bernama Bima Koncar berhasil meneguhkan dirinya sebagai penguasa Blambangan. Dari catatan penjelajah Portugis Tome Pires, diketahui bahwa Bima Koncar memiliki putra bernama Menak Pentor, yang kemudian berhasil memperluas wilayah kekuasaan Blambangan lebih jauh lagi.

Perlu dicatat, sejarawan mengakui bahwa informasi mengenai awal berdirinya Blambangan sebelum era ini masih minim dan sebagian bercampur dengan legenda, seperti kisah Damarwulan dan Minakjingga yang merujuk pada masa runtuhnya Kerajaan Singasari.

Nama yang Berasal dari Posisi Geografis

Nama "Blambangan" sendiri diyakini berasal dari kata "bala" (rakyat) dan "ombo" (besar atau banyak) — merujuk pada gambaran kerajaan yang memiliki penduduk cukup banyak. Menariknya, orang-orang Mataram kuno pada masa itu justru menyebut wilayah ini dengan nama "Sabrang", yang berarti "seberang", merujuk pada posisi Blambangan yang berada di seberang Kali Putih di Rambipuji — sungai yang menjadi batas wilayah pada masa itu.

Terjepit di Antara Dua Kekuatan Besar

Sepanjang sejarahnya, Blambangan berada dalam posisi geopolitik yang sulit: terjepit di antara kerajaan-kerajaan Islam di Jawa bagian barat (Demak, kemudian Mataram Islam) dan kerajaan-kerajaan Hindu di Bali (Gelgel, Buleleng, dan Mengwi) di bagian timur. Bagi kerajaan-kerajaan Bali, Blambangan memiliki nilai strategis besar sebagai benteng terakhir untuk membendung ekspansi Islam agar tidak menyeberang ke Pulau Bali.

Akibat posisi ini, Blambangan berulang kali menjadi sasaran serangan dari berbagai pihak, di antaranya serangan Pasuruan pada 1540-an, 1580-an, dan 1590-an, serta serangan besar dari Sultan Agung Mataram pada tahun 1633. Meski demikian, Blambangan terbukti sulit ditaklukkan sepenuhnya dalam periode-periode awal ini, dan berhasil mempertahankan eksistensinya sebagai kerajaan Hindu independen.

Karena tekanan perang yang terus-menerus dari berbagai arah, pusat pemerintahan Kerajaan Blambangan pun berpindah hingga enam kali sepanjang sejarahnya — dimulai dari Lumajang pada masa Arya Wiraraja, kemudian ke Panarukan, Kedawung, Macan Putih (Kabat), Lateng (Rogojampi), Ulupampang (Muncar), hingga akhirnya menetap di kawasan yang kini menjadi Kota Banyuwangi.

Puncak Kejayaan di Bawah Tawang Alun II

Blambangan mencapai masa keemasannya pada era pemerintahan Raja Tawang Alun II, yang menurut sebagian besar catatan sejarah memerintah sekitar tahun 1655–1692 (meski beberapa sumber mencatat rentang tahun yang sedikit berbeda). Pada masa inilah wilayah kekuasaan Blambangan meluas hingga mencakup Jember, Lumajang, Situbondo, bahkan sebagian wilayah Bali.

Tawang Alun II memindahkan ibu kota kerajaan dari Kedawung ke Macan Putih (kini bagian dari Kecamatan Kabat) sekitar tahun 1665, memilih kawasan ini karena tanahnya yang subur — sebelumnya dikenal dengan nama hutan Sudiamara. Di bawah kepemimpinannya, Blambangan mengalami masa damai yang relatif panjang tanpa banyak peperangan, sekaligus berhasil melepaskan diri dari pengaruh kekuasaan Mataram maupun Bali yang sebelumnya cukup dominan.

Pada tahun 1676, Tawang Alun II bahkan secara resmi berupaya memutus hubungan Blambangan dari kekuasaan Mataram, yang saat itu dipimpin oleh Amangkurat I — sebuah langkah yang menegaskan independensi penuh Blambangan pada puncak kejayaannya.

Pengaruh Budaya Bali di Blambangan

Selama beberapa periode, Blambangan sempat berada dalam pengaruh dan bahkan menjadi wilayah vasal dari kerajaan-kerajaan di Bali. Hal ini turut menjelaskan mengapa pengaruh budaya Bali cukup terasa di wilayah Blambangan, termasuk dalam beberapa aspek bahasa dan tradisi masyarakat Osing yang menjadi penduduk aslinya.

Keruntuhan yang Mengubah Sejarah

Kejayaan Blambangan tidak bertahan selamanya. Rangkaian konflik internal dan tekanan eksternal yang terus-menerus akhirnya melemahkan kerajaan ini secara bertahap. Puncaknya terjadi pada Perang Puputan Bayu (1771–1772), ketika VOC yang dibantu Kesultanan Mataram Islam berhasil menaklukkan perlawanan terakhir masyarakat Blambangan yang dipimpin Pangeran Jagapati.

Setelah Blambangan sepenuhnya jatuh ke tangan VOC, Bupati pertama yang ditunjuk pun tinggal di kawasan yang kini menjadi Kota Banyuwangi, dekat markas dan benteng VOC yang dikenal sebagai Benteng Utrecht.

Menariknya, runtuhnya Blambangan bukan hanya peristiwa penting bagi Jawa, tetapi juga bagi Bali. Bagi kerajaan-kerajaan di Bali, jatuhnya Blambangan ke tangan VOC berarti terputusnya hubungan kekerabatan budaya antara Jawa dan Bali — mengingat para raja Bali meyakini leluhur mereka berasal dari percampuran antara Suku Bali Aga (penduduk asli tertua Bali) dan masyarakat Jawa keturunan Majapahit. Dengan masuknya Blambangan ke bawah kekuasaan VOC, Bali secara simbolis dan politis menjadi benar-benar terpisah dari Jawa.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Apa itu Kerajaan Blambangan?

Kerajaan Blambangan adalah kerajaan Hindu terakhir yang bertahan di Pulau Jawa. Kerajaan ini berkembang di ujung timur Pulau Jawa setelah kemunduran Majapahit dan bertahan hingga abad ke-18.

Kapan Kerajaan Blambangan berdiri?

Sebagian besar sumber sejarah menyebutkan bahwa Blambangan mulai berkembang setelah runtuhnya Kerajaan Majapahit pada akhir abad ke-15, meskipun beberapa pendapat menelusuri akar sejarahnya hingga masa Arya Wiraraja pada abad ke-13.

Dari mana asal nama "Blambangan"?

Nama Blambangan diyakini berasal dari kata bala yang berarti rakyat dan ombo yang berarti besar atau banyak, meskipun terdapat beberapa teori lain mengenai asal-usul nama tersebut.

Siapa raja yang membawa Blambangan ke masa kejayaannya?

Raja Tawang Alun II dikenal sebagai penguasa yang membawa Blambangan mencapai masa keemasan melalui perluasan wilayah, stabilitas pemerintahan, dan keberhasilan melepaskan diri dari pengaruh Mataram maupun Bali.

Di mana ibu kota Kerajaan Blambangan pada masa kejayaannya?

Pada masa pemerintahan Tawang Alun II, ibu kota kerajaan dipindahkan ke Macan Putih, yang kini berada di wilayah Kecamatan Kabat, Kabupaten Banyuwangi.

Mengapa pusat pemerintahan Kerajaan Blambangan sering berpindah?

Perpindahan dilakukan akibat tekanan peperangan yang terus-menerus dari berbagai kerajaan di sekitarnya, sehingga lokasi pemerintahan harus disesuaikan demi keamanan dan kelangsungan kerajaan.

Mengapa posisi Kerajaan Blambangan sangat strategis?

Blambangan berada di antara kerajaan-kerajaan Islam di Jawa dan kerajaan-kerajaan Hindu di Bali, sehingga menjadi wilayah yang diperebutkan karena memiliki nilai politik, militer, dan budaya yang tinggi.

Apa pengaruh budaya Bali terhadap Kerajaan Blambangan?

Hubungan Blambangan dengan kerajaan-kerajaan Bali membawa pengaruh pada bahasa, tradisi, dan budaya masyarakat Osing yang masih dapat dijumpai hingga saat ini.

Bagaimana Kerajaan Blambangan runtuh?

Kerajaan Blambangan runtuh setelah Perang Puputan Bayu pada tahun 1771–1772, ketika VOC bersama Kesultanan Mataram berhasil mengalahkan perlawanan terakhir yang dipimpin Pangeran Jagapati.

Apa dampak runtuhnya Kerajaan Blambangan terhadap Bali?

Runtuhnya Blambangan memutus hubungan politik dan budaya yang telah lama terjalin antara Bali dan Jawa Timur, sekaligus memperkuat pengaruh VOC di kawasan tersebut.

Di mana bupati pertama Banyuwangi tinggal setelah Blambangan runtuh?

Setelah wilayah Blambangan dikuasai VOC, bupati pertama Banyuwangi menetap di kawasan yang kini menjadi pusat Kota Banyuwangi, tidak jauh dari Benteng Utrecht.

Apakah semua informasi sejarah Kerajaan Blambangan sudah pasti?

Belum sepenuhnya. Karena keterbatasan sumber tertulis, beberapa tanggal, peristiwa, dan masa pemerintahan dalam sejarah Blambangan masih memiliki perbedaan penafsiran di antara para sejarawan.

Jelajahi Batik Artisan di Banyuwangi

Lihat Profil Artisan Batik