Kabupaten Banyuwangi dikenal sebagai daerah yang kaya akan budaya, tradisi, dan kuliner khas yang unik. Selain populer dengan makanan berat seperti pecel pitik dan sego tempong, Banyuwangi juga memiliki beragam jajanan tradisional yang dahulu mudah ditemukan di pasar desa maupun acara adat masyarakat Osing. Namun, seiring perkembangan zaman, keberadaan beberapa jajanan tersebut mulai berkurang dan semakin sulit dijumpai.
Di sisi lain, perubahan gaya hidup masyarakat turut memengaruhi minat terhadap makanan tradisional. Generasi muda kini lebih akrab dengan camilan modern dibandingkan jajanan pasar khas daerah. Akibatnya, banyak penjual tradisional mulai berkurang karena rendahnya permintaan pasar.
Padahal, jajanan tradisional Banyuwangi bukan hanya menawarkan cita rasa khas, tetapi juga menyimpan nilai sejarah dan filosofi budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Klemben, Kue Jadul yang Pernah Sangat Populer
Salah satu jajanan tradisional Banyuwangi yang kini mulai langka adalah klemben. Kue berbentuk bulat kecil ini memiliki tekstur lembut di bagian dalam dan sedikit renyah di luar. Selain itu, aroma santan dan gula tradisional membuat rasa klemben terasa khas dan berbeda dari kue modern.
Pada masa lalu, masyarakat sering menyajikan klemben saat hajatan keluarga maupun acara desa. Akan tetapi, jumlah pembuat klemben kini semakin sedikit karena proses pembuatannya membutuhkan cetakan khusus dan teknik tradisional tertentu. Oleh sebab itu, tidak banyak generasi muda yang tertarik meneruskan usaha kuliner ini.
Jenang Selo, Kudapan Manis Penuh Kenangan
Selain klemben, jenang selo juga termasuk jajanan tradisional yang mulai jarang ditemukan di Banyuwangi. Kudapan ini dibuat dari tepung ketan, santan, dan gula merah sehingga menghasilkan rasa manis legit dengan tekstur kenyal.
Biasanya, jenang selo hadir dalam acara selamatan, syukuran, maupun tradisi masyarakat Osing. Menariknya, proses memasak jenang selo membutuhkan waktu cukup lama karena adonan harus terus diaduk agar teksturnya tetap lembut dan tidak menggumpal.
Karena prosesnya cukup rumit, hanya sebagian kecil pembuat tradisional yang masih mempertahankan resep asli jenang selo hingga sekarang.
Bagiak, Camilan Tradisional Khas Banyuwangi
Bagiak merupakan salah satu camilan khas Banyuwangi yang cukup terkenal. Jajanan berbahan dasar tepung sagu ini memiliki tekstur renyah dan mudah lumer di mulut. Selain itu, bagiak tersedia dalam berbagai rasa seperti jahe, pandan, cokelat, dan wijen.
Dahulu, masyarakat Osing sering menjadikan bagiak sebagai suguhan tamu maupun hidangan saat hari raya. Kini, meskipun masih dijual di beberapa toko oleh-oleh, produsen bagiak tradisional mulai berkurang akibat persaingan dengan makanan ringan modern.
Meskipun demikian, bagiak tetap menjadi salah satu kuliner khas yang banyak dicari wisatawan ketika berkunjung ke Banyuwangi.
Untir-Untir dan Jajanan Pasar yang Mulai Terpinggirkan
Untir-untir merupakan jajanan tradisional berbentuk pilinan menyerupai tali dengan cita rasa manis gurih. Pada zaman dahulu, kue ini sangat mudah ditemukan di pasar tradisional Banyuwangi, terutama pada pagi hari.
Selain untir-untir, ada pula jajanan lain seperti cucur, cenil, lupis, dan geplak yang kini mulai jarang dijual. Sementara itu, kehadiran makanan cepat saji dan dessert modern membuat popularitas jajanan pasar semakin menurun.
Jika kondisi tersebut terus berlangsung, beberapa jajanan tradisional dikhawatirkan akan hilang karena tidak lagi diproduksi secara rutin.
Kue Apem dan Tradisi Masyarakat Osing
Kue apem memiliki hubungan erat dengan tradisi masyarakat Osing di Banyuwangi. Biasanya, kue berbahan tepung beras dan santan ini disajikan dalam acara selamatan, kenduri, maupun kegiatan keagamaan tertentu.
Bagi masyarakat terdahulu, apem bukan sekadar makanan biasa. Sebaliknya, kue ini dianggap sebagai simbol permohonan maaf, doa, dan harapan akan keberkahan hidup.
Sayangnya, keberadaan apem tradisional mulai tergeser oleh kue modern yang dianggap lebih praktis dan memiliki tampilan menarik.
Penyebab Jajanan Tradisional Banyuwangi Mulai Langka
Ada beberapa faktor yang menyebabkan jajanan tradisional Banyuwangi semakin sulit ditemukan. Pertama, perubahan pola konsumsi masyarakat membuat makanan modern lebih diminati dibandingkan kuliner tradisional. Kedua, minimnya regenerasi pembuat jajanan tradisional membuat banyak resep lama tidak lagi diproduksi.
Selain itu, proses pembuatan yang memerlukan waktu lama juga menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku usaha tradisional. Ditambah lagi, promosi kuliner lokal masih kalah dibandingkan produk makanan modern yang dipasarkan secara masif melalui media digital.
Karena alasan tersebut, banyak jajanan tradisional yang perlahan kehilangan popularitas di tengah masyarakat.
Upaya Melestarikan Kuliner Tradisional Banyuwangi
Meskipun menghadapi berbagai tantangan, upaya pelestarian jajanan tradisional terus dilakukan oleh masyarakat dan pelaku UMKM lokal. Salah satunya melalui festival kuliner tradisional yang rutin digelar di berbagai daerah di Banyuwangi.
Selain festival budaya, promosi melalui media sosial juga mulai membantu memperkenalkan kembali jajanan khas daerah kepada generasi muda. Bahkan, beberapa pelaku usaha kini mengemas jajanan tradisional dengan tampilan lebih modern tanpa menghilangkan cita rasa aslinya.
Di samping itu, keberadaan sentra UMKM dan pusat oleh-oleh turut berperan penting dalam menjaga eksistensi kuliner tradisional Banyuwangi agar tetap dikenal wisatawan.
Jajanan Tradisional sebagai Identitas Budaya Banyuwangi
Pada dasarnya, jajanan tradisional bukan hanya soal makanan, tetapi juga bagian dari identitas budaya masyarakat Banyuwangi. Setiap resep tradisional menyimpan cerita tentang kehidupan, kebersamaan, dan tradisi masyarakat Osing yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Oleh karena itu, menjaga keberadaan jajanan tradisional berarti ikut melestarikan warisan budaya daerah. Dengan meningkatnya minat generasi muda terhadap kuliner lokal, harapan untuk mempertahankan eksistensi jajanan tradisional Banyuwangi masih terbuka lebar.
FAQ
Apa saja jajanan tradisional khas Banyuwangi yang mulai langka?
Beberapa di antaranya adalah klemben, jenang selo, untir-untir, apem tradisional, cucur, lupis, dan geplak.
Mengapa jajanan tradisional Banyuwangi mulai sulit ditemukan?
Karena perubahan gaya hidup masyarakat, minim regenerasi pembuat, dan persaingan dengan makanan modern.
Apa ciri khas jajanan tradisional Banyuwangi?
Mayoritas menggunakan bahan alami seperti santan, gula merah, tepung beras, dan kelapa dengan cita rasa tradisional yang khas.
Apa itu klemben khas Banyuwangi?
Klemben adalah kue tradisional berbentuk bulat kecil dengan tekstur lembut dan aroma santan yang khas.
Apakah bagiak masih bisa ditemukan di Banyuwangi?
Ya, bagiak masih tersedia di beberapa toko oleh-oleh dan UMKM lokal di Banyuwangi.
Apa hubungan jajanan tradisional dengan budaya Osing?
Banyak jajanan digunakan dalam ritual adat, selamatan, dan tradisi masyarakat Osing.
Mengapa generasi muda mulai jarang mengenal jajanan tradisional?
Karena pengaruh makanan modern dan kurangnya edukasi tentang kuliner tradisional daerah.
Apa bahan utama jajanan tradisional Banyuwangi?
Umumnya menggunakan tepung beras, ketan, santan, gula merah, kelapa, dan rempah alami.
Bagaimana cara melestarikan jajanan tradisional Banyuwangi?
Dengan mendukung UMKM lokal, mengenalkan kepada generasi muda, dan mempromosikannya melalui media digital.
Apakah jajanan tradisional Banyuwangi cocok dijadikan oleh-oleh?
Ya, beberapa jajanan seperti bagiak dan klemben cukup populer sebagai oleh-oleh khas Banyuwangi.
Di mana wisatawan bisa menemukan jajanan tradisional Banyuwangi?
Biasanya tersedia di pasar tradisional, sentra UMKM, festival kuliner, dan toko oleh-oleh khas Banyuwangi.
Mengapa kuliner tradisional penting untuk dijaga?
Karena kuliner tradisional merupakan bagian dari identitas budaya dan warisan leluhur yang memiliki nilai sejarah tinggi.

