sering muncul dalam percakapan masyarakat Indonesia seputar mode dan budaya: wastra. Kata ini merujuk secara luas pada kain tradisional buatan tangan, seperti batik, tenun, songket, ulos, dan berbagai kain tenun serta kain celup khas daerah lain yang tersebar di seluruh Nusantara. Bersamaan dengan itu, sebuah gerakan bernama Berwastraria, yang kurang lebih berarti "bersuka cita dalam berwastra," telah mendorong masyarakat untuk benar-benar mengenakan kain-kain ini, bukan sekadar mengaguminya dari kejauhan.
Apa yang memicu gerakan ini
Ketertarikan pada wastra cenderung meningkat setiap kali sebuah warisan tekstil Indonesia diklaim atau disalahatribusikan oleh negara lain, sebuah kekecewaan berulang yang sering kali ramai diperbincangkan di media sosial. Momen-momen seperti ini selalu menjadi pengingat bahwa wastra bukan sekadar kain, melainkan membawa sejarah panjang identitas daerah, simbolisme, dan keterampilan tangan yang layak mendapat pengakuan serta, yang lebih penting lagi, digunakan sehari-hari.
Berwastraria lahir dari semangat yang sama, namun dengan pendekatan yang lebih membangun. Alih-alih hanya bereaksi secara defensif saat warisan budaya terasa terancam, gerakan ini mendorong masyarakat untuk secara aktif mengenal wastra, mempelajari apa yang membuat kain khas daerah masing-masing begitu istimewa, dan mengenakannya dengan cara yang terasa wajar, bukan hanya disimpan untuk acara-acara resmi.
Wastra bukanlah satu hal saja
Salah satu hal menarik dari gerakan ini adalah betapa beragamnya makna di balik satu kata "wastra". Batik saja sudah sangat bervariasi tergantung dari mana asalnya. Batik dari pesisir utara Jawa cenderung menggunakan warna-warna cerah dan berani dengan motif terinspirasi alam, sementara batik dari keraton pedalaman seperti Yogyakarta dan Surakarta lebih memilih warna-warna lembut dengan pola simbolis yang terkait dengan filosofi Jawa. Batik Banyuwangi sendiri termasuk dalam kategori batik pesisir, dikenal dengan motif seperti Gajah Oling dan Kangkung Setingkes, yang masing-masing membawa makna lokalnya sendiri, bukan simbolisme keraton.
Selain batik, tradisi tenun dari daerah seperti Nusa Tenggara, Sumba, dan Flores menggunakan teknik yang sama sekali berbeda, sering kali melibatkan benang pintal tangan dan pewarna alami yang langsung ditenun menjadi pola rumit, bukan diaplikasikan setelahnya. Songket, yang identik dengan Sumatra, menggunakan benang emas atau perak yang ditenun langsung ke dalam kain, dan secara historis hanya dikenakan oleh kalangan bangsawan serta pada acara-acara khusus. Ulos dari suku Batak di Sumatra Utara memiliki makna seremonial yang mendalam, sering diberikan sebagai hadiah dalam peristiwa besar kehidupan seperti pernikahan dan kematian.
Berwastraria mendorong masyarakat untuk mempelajari perbedaan-perbedaan ini, bukan memperlakukan wastra sebagai satu kategori umum yang sama, karena setiap jenisnya mencerminkan sejarah, nilai, dan keterampilan khas suatu komunitas tertentu.
Dari acara seremonial menuju busana sehari-hari
Salah satu tujuan paling praktis dari Berwastraria adalah menjadikan wastra sebagai pakaian sehari-hari, bukan sesuatu yang hanya dikeluarkan saat pernikahan atau acara pemerintahan resmi. Ini berarti mendorong masyarakat untuk memadukan kemeja batik dengan jeans, mengenakan selendang tenun secara kasual, atau menambahkan aksen songket ke dalam pakaian modern, pada dasarnya memperlakukan kain-kain ini sebagaimana orang memperlakukan denim atau linen.
Perubahan ini penting karena alasan sederhana. Kain tekstil yang hanya dikenakan sekali atau dua kali setahun berisiko menjadi benda museum, bukan lagi tradisi yang hidup. Ketika masyarakat mengenakan wastra secara rutin, permintaan terhadap kain asli buatan tangan pun meningkat, yang secara langsung menguntungkan para perajin dan bengkel kerja kecil yang masih memproduksi tekstil ini secara manual, bukan melalui produksi massal.
Bagaimana Banyuwangi berperan dalam gambaran besar ini
Bagi Sekar Jagad, gagasan ini terasa sangat dekat. Galeri kami hadir secara khusus untuk mendukung para perajin batik Banyuwangi, yang banyak di antaranya tetap menjaga motif-motif yang jika tidak dilestarikan bisa saja memudar dari pemakaian sehari-hari. Setiap pembelian, pemesanan lokakarya, atau sekadar kunjungan untuk melihat-lihat koleksi turut berperan kecil dalam tujuan yang sama dengan yang diperjuangkan Berwastraria secara nasional, yaitu menjaga tekstil tradisional tetap relevan, dihargai, dan dikenakan, bukan hanya disimpan sebagai hiasan.
Baik Anda sedang mencari batik, berencana belajar membatik secara langsung, atau sekadar penasaran dengan apa yang membuat tekstil Banyuwangi begitu khas, ikut serta dalam Berwastraria tidak memerlukan langkah besar. Semuanya bisa dimulai dari hal sesederhana memilih untuk mengenakan satu helai wastra Indonesia yang asli pada hari yang biasa saja.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa arti kata wastra?
Wastra adalah istilah luas untuk tekstil tradisional Indonesia, termasuk batik, tenun, songket, ulos, dan berbagai kain buatan tangan lainnya dari seluruh Nusantara.
Apa itu Berwastraria?
Berwastraria adalah gerakan yang mendorong masyarakat untuk mengapresiasi, mempelajari, dan mengenakan wastra Indonesia secara rutin, bukan hanya menyimpannya untuk acara resmi.
Mengapa Berwastraria semakin populer?
Gerakan ini mendapat momentum seiring semakin banyak orang menyadari pentingnya melindungi warisan tekstil Indonesia dan mendukung perajin lokal, terutama setelah perselisihan warisan budaya menjadi perhatian publik.
Apakah batik satu-satunya jenis wastra?
Tidak. Wastra mencakup banyak tekstil tradisional seperti batik, tenun, songket, ulos, dan berbagai kain khas daerah yang diproduksi di seluruh Indonesia.
Apa yang membuat batik Banyuwangi unik?
Batik Banyuwangi termasuk dalam tradisi batik pesisir, dengan warna-warna cerah dan motif terinspirasi alam seperti Gajah Oling dan Kangkung Setingkes.
Bisakah wastra dikenakan sebagai pakaian sehari-hari?
Bisa. Berwastraria mendorong masyarakat untuk memadukan wastra dengan mode modern, sehingga tekstil tradisional cocok dikenakan sehari-hari.
Apa perbedaan antara batik dan tenun?
Batik dibuat menggunakan proses celup rintang lilin, sedangkan tenun dibuat dengan menenun benang berwarna langsung menjadi kain berpola pada alat tenun.
Apa itu songket?
Songket adalah tekstil tradisional yang ditenun dengan benang emas atau perak. Kain ini identik dengan Sumatra dan telah lama dikenakan pada acara-acara penting.
Apa itu ulos?
Ulos adalah kain tradisional dari suku Batak di Sumatra Utara. Kain ini berperan penting dalam upacara budaya dan sering diberikan saat pernikahan serta peristiwa besar kehidupan lainnya.
Bagaimana mengenakan wastra mendukung perajin lokal?
Memilih wastra asli buatan tangan meningkatkan permintaan terhadap tekstil tradisional, membantu perajin lokal dan bengkel kerja kecil melestarikan keterampilan serta mata pencaharian mereka.
Apakah saya perlu memahami suatu motif sebelum mengenakannya?
Tidak wajib, tetapi memahami makna di balik suatu motif membantu Anda menghargai nilai budayanya dan mengenakannya dengan rasa hormat yang lebih besar.
Bisakah wisatawan asing ikut serta dalam gerakan Berwastraria?
Bisa. Siapa pun dapat mendukung gerakan ini dengan mempelajari tekstil Indonesia dan membeli wastra asli dari perajin lokal.
Di mana saya bisa menemukan wastra Banyuwangi yang asli?
Sekar Jagad Batik Center and Creative Hub di Banyuwangi menawarkan batik lokal asli, pengalaman budaya, serta kesempatan untuk bertemu langsung dengan para perajin di balik setiap karyanya.
Bagaimana cara mengenali wastra buatan tangan?
Tekstil buatan tangan sering kali menunjukkan sedikit variasi pada pola, warna, dan guratan garis, membuat setiap helai kain unik dibandingkan kain cetakan mesin.
Apa cara termudah untuk ikut serta dalam Berwastraria?
Mulailah dengan mengenakan sehelai wastra Indonesia yang asli dalam kehidupan sehari-hari, dan luangkan waktu untuk mempelajari kisah di balik motif atau teknik tenunnya.

