Peserta Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) mengenakan kostum etnik spektakuler saat mengikuti parade budaya di jalan utama Kota Banyuwangi.

Banyuwangi Ethno Carnival: Festival Fashion Etnik yang Mendunia dari Banyuwangi

Setiap tahun, sekitar dua kilometer jalan utama di pusat Kota Banyuwangi berubah menjadi panggung terbuka yang dipenuhi kostum-kostum spektakuler. Para peserta berjalan mengenakan busana etnik berukuran besar, diiringi musik tradisional, tabuhan drum, dan ribuan penonton yang sudah memadati lokasi sejak pagi.

Inilah Banyuwangi Ethno Carnival (BEC), sebuah festival budaya yang kini menjadi salah satu agenda paling bergengsi di Jawa Timur sekaligus ikon pariwisata Banyuwangi.

Awal Mula Banyuwangi Ethno Carnival

BEC pertama kali diselenggarakan pada Oktober 2011 sebagai bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Banyuwangi untuk memperkenalkan seni dan budaya daerah kepada masyarakat yang lebih luas tanpa menghilangkan nilai-nilai aslinya.

Konsepnya cukup sederhana, yaitu mengangkat identitas budaya Banyuwangi, khususnya budaya Suku Osing, ke dalam sebuah parade kostum berskala besar yang mampu bersaing dengan berbagai festival budaya terkenal di Indonesia.

Tema pertama yang diusung adalah Ikon Kesenian Banyuwangi. Peserta dibagi ke dalam tiga kelompok atau defile, yaitu Damarwulan, Gandrung, dan Kundaran.

Format tersebut kemudian menjadi ciri khas BEC hingga sekarang, di mana setiap kelompok mewakili bagian berbeda dari tema utama melalui kostum, koreografi, dan pertunjukan.

Tema yang Selalu Berbeda Setiap Tahun

Salah satu alasan BEC selalu menarik untuk disaksikan adalah karena setiap penyelenggaraannya menghadirkan tema yang berbeda.

Pada tahun 2012, BEC mengangkat tema Re-Barong Using yang terinspirasi dari tradisi Barong Using. Peserta dibagi menjadi tiga kelompok berwarna merah, kuning, dan hijau yang melambangkan keberanian, harapan, dan kesuburan.

Setahun kemudian, tema Kebo-keboan mengangkat ritual masyarakat agraris yang menampilkan para peserta sebagai sosok kerbau.

Tahun 2014 menghadirkan tema Seblang, sebuah tarian sakral yang dibawakan oleh perempuan dalam kondisi trance.

Pada 2015, BEC mengangkat tradisi Pernikahan Adat Using, sedangkan 2016 mengisahkan legenda Sritanjung Sidopekso, cerita rakyat yang berkaitan dengan asal-usul nama Banyuwangi.

Pada tahun-tahun berikutnya, BEC terus mengeksplorasi budaya lokal melalui berbagai tema, termasuk Revival of Village pada 2024 yang merayakan keberagaman 189 desa di Banyuwangi, serta Ngelukat pada 2025 yang mengangkat tradisi penyucian diri dalam budaya Osing.

Lebih dari Sekadar Parade Kostum

Kostum-kostum dalam BEC memang menjadi daya tarik utama. Setiap kostum dirancang dengan detail yang luar biasa, sering kali memiliki berat beberapa kilogram dan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk menyelesaikannya.

Namun, BEC bukan hanya tentang penampilan visual.

Festival ini telah menjadi bagian dari Karisma Event Nusantara, yaitu kalender resmi event budaya dan pariwisata unggulan Indonesia.

BEC juga memberikan dampak ekonomi yang besar bagi industri kreatif Banyuwangi. Para desainer, penjahit, pengrajin ornamen, hingga pembuat mahkota dan sayap kostum menerima banyak pesanan menjelang acara berlangsung.

Biaya pembuatan satu kostum bahkan dapat mencapai Rp10 juta hingga Rp20 juta, tergantung tingkat kerumitan dan material yang digunakan.

Bagi banyak pelaku industri kreatif lokal, musim BEC menjadi salah satu periode paling sibuk setiap tahunnya.

Panggung Kebanggaan Budaya Banyuwangi

Selain memberikan manfaat ekonomi, BEC juga menjadi ruang bagi generasi muda Banyuwangi untuk mengenal budayanya sendiri.

Para peserta tidak hanya mengenakan kostum, tetapi juga mempelajari sejarah, filosofi, dan unsur tari tradisional yang berkaitan dengan tema yang mereka bawakan. Penampilan mereka memadukan gaya berjalan di atas catwalk dengan gerakan tari tradisional sehingga menghasilkan pertunjukan yang unik.

Festival ini juga semakin dikenal oleh wisatawan mancanegara. Tidak sedikit turis yang datang khusus untuk menyaksikan BEC, bahkan beberapa di antaranya ikut berpartisipasi dalam parade.

Jika dahulu Banyuwangi lebih dikenal melalui Kawah Ijen dan pantai-pantainya, kini Banyuwangi Ethno Carnival telah menjadi alasan lain yang membuat banyak wisatawan memilih datang pada waktu tertentu setiap tahunnya.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa kepanjangan dari BEC?

BEC adalah singkatan dari Banyuwangi Ethno Carnival, sebuah festival budaya tahunan yang menampilkan kostum etnik, seni pertunjukan, dan warisan budaya Banyuwangi.

Kapan Banyuwangi Ethno Carnival pertama kali diselenggarakan?

BEC pertama kali digelar pada Oktober 2011 dengan tema Ikon Kesenian Banyuwangi.

Di mana parade BEC berlangsung?

Parade berlangsung di sepanjang jalan protokol Kota Banyuwangi, biasanya dimulai dari kawasan Taman Blambangan hingga dekat Kantor Bupati Banyuwangi.

Apakah tema BEC selalu berubah setiap tahun?

Ya. Setiap penyelenggaraan BEC mengangkat tema baru yang terinspirasi dari sejarah, budaya, tradisi, maupun cerita rakyat Banyuwangi.

Apa yang dimaksud dengan defile dalam BEC?

Defile adalah kelompok peserta yang mewakili subtema tertentu dalam satu tema besar BEC. Setiap defile memiliki kostum dan koreografi yang berbeda.

Siapa saja yang dapat menjadi peserta BEC?

Peserta dipilih melalui proses audisi yang terbuka bagi masyarakat Banyuwangi, termasuk pelajar, seniman, dan komunitas budaya.

Apakah BEC hanya berupa parade kostum?

Tidak. Selain mengenakan kostum, peserta juga menampilkan koreografi yang memadukan fashion show dengan unsur tari tradisional.

Berapa biaya pembuatan kostum BEC?

Biaya pembuatan satu kostum umumnya berkisar antara Rp10 juta hingga Rp20 juta, tergantung desain, bahan, dan tingkat kerumitannya.

Apakah BEC termasuk dalam kalender event nasional?

Ya. Banyuwangi Ethno Carnival merupakan bagian dari Karisma Event Nusantara, kalender resmi event budaya dan pariwisata unggulan Indonesia.

Apakah wisatawan dapat menonton BEC secara gratis?

Ya. Sebagian besar area parade dapat disaksikan secara gratis, meskipun beberapa area khusus mungkin memerlukan tiket sesuai kebijakan penyelenggara.

Bagaimana BEC membantu perekonomian Banyuwangi?

BEC meningkatkan permintaan terhadap jasa desainer, penjahit, pengrajin kostum, pelaku UMKM, serta sektor pariwisata dan ekonomi kreatif lokal.

Apa saja tema yang pernah diangkat dalam BEC?

Beberapa tema BEC antara lain Re-Barong Using, Kebo-keboan, Seblang, Pernikahan Adat Using, Sritanjung Sidopekso, Revival of Village, dan Ngelukat.

Apakah ada versi BEC untuk anak-anak?

Ya. Beberapa penyelenggaraan menghadirkan BEC Cilik, yang melibatkan siswa sekolah dasar dengan kostum yang disesuaikan.

Sudah berapa lama Banyuwangi Ethno Carnival diselenggarakan?

BEC telah diselenggarakan setiap tahun sejak 2011 dan kini menjadi salah satu ikon budaya sekaligus daya tarik wisata utama Banyuwangi.

Di mana saya bisa mempelajari budaya yang menjadi inspirasi BEC?

Anda dapat mengunjungi Sekar Jagad Batik & Creative Hub di Banyuwangi untuk mengenal budaya Osing, batik Banyuwangi, serta mengikuti berbagai workshop budaya.

Jelajahi Batik Artisan di Banyuwangi

Lihat Profil Artisan Batik